
Ir. H. Rathoyo Rasdan, MBA
Ketua DPP LDII
Ketua DPP LDII
Sebelum memulai topik bahasan yang luar biasa ini, marilah kita mengintip sejenak ruang Redaksi Nuansa pada saat rapat redaktur untuk merumuskan topik yang tepat saat ini. Tidak seperti biasanya dengan memilih beberapa topik yang ditawarkan, kali ini hanya satu pilihan: “Silaturohim Nasional”. Dan anehnya semua peserta musyawarah tumben setuju 100%. Nampaknya makna silaturohim sudah dinanti-nantikan oleh semua pihak, yang maaf penulis sampaikan bahwa penantian tersebut sebenarnya bukan hanya oleh Redaktur Nuansa yang hadir waktu itu, tetapi juga oleh seluruh kalangan termasuk kalangan yang lebih luas yaitu dalam kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara, dalam konteks nasional. Untuk itu marilah kita bersyukur atas ilham tersebut, semoga Allah memberikan balasan yang lebih baik.
Sampai sekarang masih terngiang dalam ingatan kita, cerita tentang dakwah Rasullulloh di awal kerasulannya yang mengajak manusia untuk menyebarkan salam, memberikan makanan, dan menjalin silaturahim… Sungguh ajakan dakwah yang sejuk dan menyejukkan. Lalu mengapa topik ini dikatakan luar biasa? Kalau disimak secara lebih mendalam, ternyata silaturahim tidak hanya mengandung nilai-nilai kehidupan bermasyarakat tetapi juga nilai-nilai individul, bahkan sampai pada nilai-nilai kehidupan setelah kematian nanti. Artinya, dengan satu kata silaturohim ternyata mengandung berbagai aspek kehidupan, baik dunia maupun akhirat. Inilah yang disebut “the power of silaturohim”, kekuatan dahsyat sambung famili.
Hampir di setiap ceramah yang penulis sampaikan, biasanya diawali dengan suatu pembukaan berupa pernyataan bahwa ada yang lebih penting dari tema ceramah yaitu pertemuan ini atau silaturahim ini. Lalu disampaikan pertanyaan: “Apa manfaat silaturahim?”. Sebagian besar audiens menjawab dengan benar, bahwa manfaat silaturahim adalah diluaskan rejekinya dan dipanjangkan umurnya. Pada kesempatan ini tidak dibahas tentang proses diluaskannya rejeki dan arti dipanjangkan umur, yang jelas dengan silaturahim tersebut individu yang bersangkutan akan mendapatkan manfaat yang sangat besar. Inilah salah satu kekuatan silaturahim, yang dalam bahasa modern disebutnya sebagai kemampuan menciptakan, memelihara, dan meningkatkan networking.
Secara sistematis, silaturahim atau “sambung” dapat diurai ke dalam simpul-simpul sambung keluarga batih, sambung keluarga besar, sambung pertemanan, sambung sosial, dan sambung kebangsaan (silaturahim nasional). Kita mulai dari keluarga batih: suami-istri-anak. Sang suami sebagai “penggembala” bertanggung-jawab penuh terhadap gembalaannya. Dia memegang amanah dari Sang Khalik. Oleh karena manusia itu unik, tidak seperti mahluk lain ciptaan Tuhan, maka cara sambungnya suami-istri-anak juga tidak sekedar kedekatan fisik (body), tetapi juga bagaimana sambung pemikiran (mind) dan sambung kejiwaan (soul). Itulah tiga komponen yang membentuk manusia: body, mind, & soul. Ada suatu cerita, pada saat pensiunnya sang ayah tiba anak-anaknya yang sudah mandiri itu secara spontan meng-back up semua kebutuhan finansial orangtua. Si bungsu bertanya, kenapa ya sekarang kita bisa serukun dan sekompak ini? Sebelum orangtuanya menjawab, lontaran kata dari si sulung terucap: bukankah kita dulu selalu menunggu-nunggu akhir pekan? Saat klimaksnya hari-hari dalam sepekan dimana seluruh keluarga pergi bareng dalam kebersamaan fisik, pemikiran, dan kejiwaan.
Berikutnya adalah keluarga besar: suami-istri, naik ke bapak-ibu plus kakek-nenek dan seterusnya yang masih hidup. Turun ke anak-cucu dan seterusnya yang masih hidup, dan menyamping ke saudara-saudari dan keluarganya yang masih hidup. Semua terintegrasi dalam keluarga besar. Di sinilah ancaman Allah yang disabdakan oleh Nabi Muhammad s.a.w bahwa tidak akan masuk sorga orang yang memutus (qoti’). Para sahabat bertanya, memutus apa ya Nabi? Dijawab oleh Nabi: orang yang memutus tali silaturahim keluarga besar tidak akan masuk sorga. Naudzubillahi min dzalik. Kini saatnya kita yang memulai, inisiatif untuk memperbanyak/memperkuat tali silaturahim pada keluarga besar kita masing-masing. Hasilnya akan jelas, manfaat dunia – akhirat. Dalam konteks ekonomi nasional, para ahli ekonomi menengarai behwa kekuatan ekonomi negara yang tahan terhadap guncangan krisis ekonomi dunia dikarenakan kuatnya ekonomi keluarga yang tersambung dalam sistem ekonomi keluarga besar. Hal ini akan terwujud manakala setiap sub-sistem dari sistem keluarga besar tersebut senantiasa tersambung terus-menerus, baik dalam suka maupun duka.
Keempat, sambung pertemanan: teman setetangga, teman se-RT/RW/kampung, teman sejawat, teman seprofesi, teman semasjid/segereja/seklenteng, dan seterusnya yang betul-betul kita kenal.pokoknya masih keturunan Nabi Adam, hukumnya wajib kita pelihara dan tingkatkan silaturahim ini. Tidak ada kesangsian tentang manfaat pertemanan ini, karena teman ada referensi yang paling tinggi nilai kepercayaannya untuk pekerjaan dan dunia bisnis. Meningkat yang lebih luas lagi adalah teman yang kita tidak kenal secara fisik, yaitu sambung sosial. Masyarakat dunia sekarang ini dihebohkan dengan pesatnya apa yang disebut media sosial. Semua tersambung oleh media sosial ini yang pada hakikinya orang-orang tersebut sangat heterogen. Pertumbuhan yang pesat media yang fenomenal ini dimulai menjelang tahun 2000, dan sampai sekarang masih terus berkembang. Tidak kurang dari yang lebih kita kenal seperti facebook dan twitter, nampaknya masih banyak lagi seperti Friendster, Linkedln, MySpace, Wiser, dan seabrek lainnya. Tentunya bagaikan pisau bermata dua: bisa dimanfaatkan untuk tujuan-tujuan positif namun juga bisa berdampak negatif. Bahkan dalam dunia bisnis, modal itu tidak hanya 5M (man, money, machine, & method) tetapi juga muncul modal baru yang lebih dahsyat yaitu modal sosial (social capital).
Nah, bagaimana dengan sambung kebangsaan, silaturahim nasional? Baik-buruknya itu sangat tergantung dari sub-sistem yang paling kecil yaitu keluarga batih:suami-istri-anak, dimana sang suami sebagai nakhoda (ro’in)-nya. Dan kelak akan dimintai pertanggung-jawabannya. Dari masing-masing keluarga batih, keluarga besar, pertemanan, sampai masyarakat umum, akhirnya berujung kepada sambung kebangsaan: silaturahim nasional. Kini saatnya kita perkuat silaturahim. “Barangsiapa yang senang jika diluaskan rejekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ber-silaturahim” (HR Bukhari).
0 komentar:
Post a Comment