The Power of Silaturahim

rathoyo
Ir. H. Rathoyo Rasdan, MBA
Ketua DPP LDII
Sebelum memulai topik bahasan yang luar biasa ini, marilah kita mengintip sejenak ruang Redaksi Nuansa pada saat rapat redaktur untuk merumuskan topik yang tepat saat ini. Tidak seperti biasanya dengan memilih beberapa topik yang ditawarkan, kali ini hanya satu pilihan: “Silaturohim Nasional”. Dan anehnya semua peserta musyawarah tumben setuju 100%. Nampaknya makna silaturohim sudah dinanti-nantikan oleh semua pihak, yang maaf penulis sampaikan bahwa penantian tersebut sebenarnya bukan hanya oleh Redaktur Nuansa yang hadir waktu itu, tetapi juga oleh seluruh kalangan termasuk kalangan yang lebih luas yaitu dalam kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara, dalam konteks nasional. Untuk itu marilah kita bersyukur atas ilham tersebut, semoga Allah memberikan balasan yang lebih baik.
Sampai sekarang masih terngiang dalam ingatan kita, cerita tentang dakwah Rasullulloh di awal kerasulannya yang mengajak manusia untuk menyebarkan salam, memberikan makanan, dan menjalin silaturahim… Sungguh ajakan dakwah yang sejuk dan menyejukkan. Lalu mengapa topik ini dikatakan luar biasa? Kalau disimak secara lebih mendalam, ternyata silaturahim tidak hanya mengandung nilai-nilai kehidupan bermasyarakat tetapi juga nilai-nilai individul, bahkan sampai pada nilai-nilai kehidupan setelah kematian nanti. Artinya, dengan satu kata silaturohim ternyata mengandung berbagai aspek kehidupan, baik dunia maupun akhirat. Inilah yang disebut “the power of silaturohim”, kekuatan dahsyat sambung famili.
Hampir di setiap ceramah yang penulis sampaikan, biasanya diawali dengan suatu pembukaan berupa pernyataan bahwa ada yang lebih penting dari tema ceramah yaitu pertemuan ini atau silaturahim ini. Lalu disampaikan pertanyaan: “Apa manfaat silaturahim?”. Sebagian besar audiens menjawab dengan benar, bahwa manfaat silaturahim adalah diluaskan rejekinya dan dipanjangkan umurnya. Pada kesempatan ini tidak dibahas tentang proses diluaskannya rejeki dan arti dipanjangkan umur, yang jelas dengan silaturahim tersebut individu yang bersangkutan akan mendapatkan manfaat yang sangat besar. Inilah salah satu kekuatan silaturahim, yang dalam bahasa modern disebutnya sebagai kemampuan menciptakan, memelihara, dan meningkatkan networking.
Secara sistematis, silaturahim atau “sambung” dapat diurai ke dalam simpul-simpul sambung keluarga batih, sambung keluarga besar, sambung pertemanan, sambung sosial, dan sambung kebangsaan (silaturahim nasional). Kita mulai dari keluarga batih: suami-istri-anak. Sang suami sebagai “penggembala” bertanggung-jawab penuh terhadap gembalaannya. Dia memegang amanah dari Sang Khalik. Oleh karena manusia itu unik, tidak seperti mahluk lain ciptaan Tuhan, maka cara sambungnya suami-istri-anak juga tidak sekedar kedekatan fisik (body), tetapi juga bagaimana sambung pemikiran (mind) dan sambung kejiwaan (soul). Itulah tiga komponen yang membentuk manusia: body, mind, & soul. Ada suatu cerita, pada saat pensiunnya sang ayah tiba anak-anaknya yang sudah mandiri itu secara spontan meng-back up semua kebutuhan finansial orangtua. Si bungsu bertanya, kenapa ya sekarang kita bisa serukun dan sekompak ini? Sebelum orangtuanya menjawab, lontaran kata dari si sulung terucap: bukankah kita dulu selalu menunggu-nunggu akhir pekan? Saat klimaksnya hari-hari dalam sepekan dimana seluruh keluarga pergi bareng dalam kebersamaan fisik, pemikiran, dan kejiwaan.
Berikutnya adalah keluarga besar: suami-istri, naik ke bapak-ibu plus kakek-nenek dan seterusnya yang masih hidup. Turun ke anak-cucu dan seterusnya yang masih hidup, dan menyamping ke saudara-saudari dan keluarganya yang masih hidup. Semua terintegrasi dalam keluarga besar. Di sinilah ancaman Allah yang disabdakan oleh Nabi Muhammad s.a.w bahwa tidak akan masuk sorga orang yang memutus (qoti’). Para sahabat bertanya, memutus apa ya Nabi? Dijawab oleh Nabi: orang yang memutus tali silaturahim keluarga besar tidak akan masuk sorga. Naudzubillahi min dzalik. Kini saatnya kita yang memulai, inisiatif untuk memperbanyak/memperkuat tali silaturahim pada keluarga besar kita masing-masing. Hasilnya akan jelas, manfaat dunia – akhirat. Dalam konteks ekonomi nasional, para ahli ekonomi menengarai behwa kekuatan ekonomi negara yang tahan terhadap guncangan krisis ekonomi dunia dikarenakan kuatnya ekonomi keluarga yang tersambung dalam sistem ekonomi keluarga besar. Hal ini akan terwujud manakala setiap sub-sistem dari sistem keluarga besar tersebut senantiasa tersambung terus-menerus, baik dalam suka maupun duka.
Keempat, sambung pertemanan: teman setetangga, teman se-RT/RW/kampung, teman sejawat, teman seprofesi, teman semasjid/segereja/seklenteng, dan seterusnya yang betul-betul kita kenal.pokoknya masih keturunan Nabi Adam, hukumnya wajib kita pelihara dan tingkatkan silaturahim ini. Tidak ada kesangsian tentang manfaat pertemanan ini, karena teman ada referensi yang paling tinggi nilai kepercayaannya untuk pekerjaan dan dunia bisnis. Meningkat yang lebih luas lagi adalah teman yang kita tidak kenal secara fisik, yaitu sambung sosial. Masyarakat dunia sekarang ini dihebohkan dengan pesatnya apa yang disebut media sosial. Semua tersambung oleh media sosial ini yang pada hakikinya orang-orang tersebut sangat heterogen. Pertumbuhan yang pesat media yang fenomenal ini dimulai menjelang tahun 2000, dan sampai sekarang masih terus berkembang. Tidak kurang dari yang lebih kita kenal seperti facebook dan twitter, nampaknya masih banyak lagi seperti Friendster, Linkedln, MySpace, Wiser, dan seabrek lainnya. Tentunya bagaikan pisau bermata dua: bisa dimanfaatkan untuk tujuan-tujuan positif namun juga bisa berdampak negatif. Bahkan dalam dunia bisnis, modal itu tidak hanya 5M (man, money, machine, & method) tetapi juga muncul modal baru yang lebih dahsyat yaitu modal sosial (social capital).
Nah, bagaimana dengan sambung kebangsaan, silaturahim nasional? Baik-buruknya itu sangat tergantung dari sub-sistem yang paling kecil yaitu keluarga batih:suami-istri-anak, dimana sang suami sebagai nakhoda (ro’in)-nya. Dan kelak akan dimintai pertanggung-jawabannya. Dari masing-masing keluarga batih, keluarga besar, pertemanan, sampai masyarakat umum, akhirnya berujung kepada sambung kebangsaan: silaturahim nasional. Kini saatnya kita perkuat silaturahim. “Barangsiapa yang senang jika diluaskan rejekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ber-silaturahim” (HR Bukhari).

Wanita Hebat di Belakang Pria Hebat


WANITA memegang peranan penting di dalam rumah tangga. Wanita umumnya selalu bangun lebih pagi dari suami atau anak-anaknya. Mereka lah yang menyiapkan sarapan, menyambut keluarga dengan senyuman dan memberikan warna serta semangat di awal hari anggota keluarganya. Banyak yang harus dilakukannya. Menjadi istri, menjadi ibu, mengurus rumah, apalagi bila dia juga mengemban karir di luar rumah.
Wanita memiliki peran penting meski ia tidak sedang berada pada jabatan-jabatan yang tampak tak penting. Wanita adalah titik awal lahirnya pemimpin-pemimpin dunia dan dia adalah sosok yang berarti di balik kesuksesan seorang suami. Mengapa demikian? Mungkin banyak yang tidak menyadari, ketika pria sering termakan ambisi dan cenderung melakukan langkah yang terburu-buru, wanita yang mendampinginya yang mampu membantu mengontrol dorongan-dorongan tersebut. Berikut bagaimana wanita bisa
menjadi sosok yang berpengaruh pada kehidupan seorang suami.
1. Memberikan rasa percaya diri
Wanita dapat memberikan rasa percaya diri pada suami karena suami merasa dipercaya, disayangi dan diandalkan. Wanita sendiri menjadi kebanggaan suami karena bisa memiliki dan membuat hidupnya lebih bermakna.
2. Menjadi pengendali
Wanita senang saat pasangannya memiliki ambisi, motivasi dan dedikasi. Dan saat semua itu mulai tidak pada kadar yang semestinya, wanita lah yang mampu melindungi mereka dari ambisius berlebihan dengan pemikiran istrinya.
3. Menawarkan support
Wanita adalah orang terdekat yang mampu memberikan semangat. Ya, pria-pria memang penuh dengan ambisi, namun ada saat di mana mereka hampa dan saat itulah bahkan hanya sentuhan tangan wanita di punggung mereka sudah mampu membantu mereka merasa kuat kembali.
4. Mengijinkan suami mengambil resiko
Orang hebat itu berani mengambil resiko. Wanita tahu benar suaminya sehingga dia percaya suaminya mampu melewatinya. Wanita memberikan rasa optimis, dukungan dan kepercayaan pada suaminya. Tidak takut bila suaminya gagal, karena sekalipun gagal, sang istri sudah siap menyelamatkan batin dan pikirannya agar ia mampu melangkah kembali.
5. Memberikan pandangan
Istri bukan hanya buntut suami. Namun juga menjadi inspirasi atas pemikiran-pemikiran nya. Suami akan membutuhkan pandangan sang istri untuk menyeimbangkan ketimpangan dalam pikiran dan hatinnya. Suami juga bisa terkesan dengan perbuatan sang istri dan itu sangat memengaruhi pandangannya juga.
6. Menangani rumah tangga
Kembali pada apa yang menjadi kodrat. Wanita mengurus rumah, suami dan anak. Wanita adalah rumah itu sendiri, tempat mereka akan pulang. Anda tahu istri para orang besar seperti Obama dan Kennedy? Mereka tidak meninggalkan apa yang harus mereka kerjakan sebagai istri dan ibu dari anak-anak mereka.
7. Selalu di sisi suami
Dalam suka maupun duka. Dalam semangat yang berkobar maupun ketika redup, Istri yang akan berada di sisi suami. Istri memberikan 6 hal di atas dengan selalu berada di sisinya. Inilah yang suami butuhkan, kehadiran istri sebagai separuh jiwa mereka. Ini berarti sebagai ibu rumah tangga pun istri begitu berarti.
Mengutip perkataan ibu Ainun Habibie: “Mengapa saya tidak bekerja? Bukankah saya dokter? Memang. Dan sangat mungkin saya bekerja waktu itu. Namun saya pikir, buat apa uang tambahan dan kepuasan batin yang barangkali cukup banyak itu jika akhirnya diberikan pada seorang perawat pengasuh anak bergaji tinggi dengan risiko kami sendiri kehilangan kedekatan pada anak sendiri? Apa artinya ketambahan uang dan kepuasan profesional jika akhirnya anak saya tidak dapat saya timang sendiri, saya bentuk sendiri pribadinya? Anak saya akan tidak mempunyai ibu. Seimbangkah anak kehilangan ibu bapak, seimbangkah orangtua kehilangan anak, dengan uang dan kepuasan pribadi tambahan karena bekerja? Itulah sebabnya saya memutuskan menerima hidup pas-pasan. Tiga setengah tahun kami bertiga hidup begitu.”
Ainun Habibie adalah sosok wanita yang hebat di balik Pak Habibie yang luar biasa. Beliau juga sudah menjadi panutan bagi anak-anaknya, bahkan menjadi inspirasi banyak wanita di Indonesia.
Namun Anda, para wanita, punya pilihan bila suami mengijinkan Anda mencapai kesuksesan yang Anda dambakan. Yang paling penting adalah menjadi wanita seutuhnya bagi diri Anda, suami dan anak-anak Anda. Jadilah rumah bagi mereka kembali pada Anda. Semoga keluarga Anda selalu bahagia. //**
Siti Khadijah, Inspirasi Wanita Modern
SIAPAKAH wanita paling beruntung, yang hidup dalam cinta dan bimbingan menuju surga dari suami terbaik yang pernah berjalan di muka bumi ini? Ia adalah ummu mukminin pertama, Khadijah binti Khuwailid, istri Rasulullah SAW. Sebagai istri, Siti Khadijah selalu menemani suaminya apapun kondisinya. Saat Muhammad pertama kali menerima wahyu dan pulang ke rumah dengan menggigil, Khadijah menyelimuti dan menghapus kegundahan hatinya. Ia percaya akan semua perkataan suaminya. Ialah wanita pertama yang masuk islam.
Kehidupan rumah tangga mereka begitu bahagia dengan anak-anak yang dilahirkan Khadijah. Meskipun Khadijah adalah saudagar yang kaya raya, Rasulullah tidaklah berpangku tangan. Ia tetap berdagang dan juga membantu pekerjaan rumah tangga.
Sebagai wanita, para ibu bisa belajar banyak dari sosok teladan seorang Siti Khadijah. Inilah beberapa di antaranya:
1. Menjadi seorang janda terhormat
Di masa kehidupan seorang Siti Khadijah, wanita adalah kaum yang dikucilkan dan tidak ada harganya, apalagi seorang janda. Siti Khadijah pernah diceraikan suaminya, tetapi beliau justru memiliki takdir sebagai pendamping seorang Rasulullah. Inilah bukti bahwa tidak selamanya seorang janda itu hina dan boleh dipandang sebelah mata (seperti cap yang diberikan masyarakat hingga saat ini). Jika sang wanita bisa menghormati diri dan perilakunya, maka status apapun yang disandang, dia pantas menjadi wanita mulia yang suatu saat akan memuliakan seorang pria dan keluarganya.
2. Mandiri sebagai saudagar
Sudah bukan rahasia bahwa Siti Khadijah adalah seorang wirausaha atau saudagar sukses dan kaya raya. Tidak banyak wanita yang mandiri di masa itu, apalagi menjadi seorang saudagar sukses. Inilah bukti bahwa wanita bukan makhluk yang lemah atau bodoh. Wanita bisa menghargai dirinya sendiri dengan menjemput rezekinya dengan mandiri. Dengan menjadi saudagar atau wirausaha, maka terbukalah kesempatan dan rezeki yang lebih besar untuk orang lain.
3. Tidak menilai pria dari kekayaannya
Sebagai wanita cantik dan kaya, banyak pria kaya yang ingin melamar Siti Khadijah. Beberapa pelamar itu adalah orang-orang yang berasal dari keluarga kaya dan bersedia membayar berapapun mas kawin yang diinginkan Siti Khadijah. Tetapi wanita mulia tersebut menolak secara halus lamaran yang datang. Bagi Khadijah harta bukanlah variable untuk memilih pasangan hidup.
4. Melamar terlebih dahulu
Jika Anda sering membaca kisah cinta Siti Khadijah dan Nabi Muhammad SAW, Anda pasti tahu bahwa Siti Khadijah yang terlebih dahulu menyatakan keinginannya untuk menikah dengan Rasulullah. Melalui sahabatnya, Siti Khadijah menyampaikan keinginan itu. Hal ini menjadi sebuah jalan bagi wanita untuk tidak malu atau takut mengutarakan keinginan hatinya menikah dengan seorang pria baik, sholeh dan berakhlak mulia. Menikah adalah tujuan yang mulia, jadi tidak perlu malu untuk sebuah tujuan mulia yang suci. Kalaupun lamaran itu tidak diterima, janganlah malu, karena Allah SWT pasti punya jawaban terbaik untuk menjawab jodoh seorang wanita.
5. Istri yang taat pada suami
Dibandingkan dengan pria kaya-raya yang melamar Siti Khadijah, harta Rasulullah saat menikahi Siti Khadijah tidaklah banyak. Tetapi Siti Khadijah memilih pria dengan akhlak mulia. Beliau tahu bahwa tugas seorang istri adalah mendampingi suami. Siti Khadijah juga taat dan tidak membawa nama besar keluarganya atau kekayaan yang dimiliki untuk mengurangi rasa hormatnya pada Rasulullah. Pilihlah pria yang taat dan memiliki akhlak mulia, juga pria yang rajin dan pantang menyerah menjemput rezeki halal. //**
Istri Sholehah Menjadi Ratunya Bidadari di Surga
LAKI-LAKI manapun pasti menginginkan seorang istri sholehah yang mampu menenangkan hatinya saat gundah, mampu menjadi teman diskusi yang komunikatif, seorang istri yang mampu merawat dan mengurus dirinya dengan telaten dan menjaga anak-anak serta rumah dengan rapi. Dan dengan cinta kasih bersama-sama berharap kelak akan berkumpul di surga yang kekal abadi sehingga kebahagiaan yang dirasa akan sempurna, bahagia di dunia dan bahagia di akhirat.
Istri sholehah adalah seorang istri yang taat dan tunduk pada suaminya. Ketika ketaatan dan ketundukkan ditampilkan oleh seorang istri akan membuat rasa tenteram tumbuh di hati suami. Suami pun akan merasakan rasa tenteram dalam mencari nafkah, meringankan semua tugasnya yang berkaitan dengan agama dan dunia. Termasuk pekerjaan suami ketika membantu dalam mengurus anak-anak.
Istri sholehah memang sudah seharusnya berusaha meraih ridho sang suami dan menjauhi segala perbuatan ataupun hal yang akan melukai hati suami. Apabila seorang istri bertindak di luar batas sebagai seorang istri dan suaminya tidak ridho serta merasa tersakiti, maka bisa terjadi bencana dalam rumah tangga. Pernikahan yang telah dibangun begitu lama, akan sia-sia karena bisa saja sang suami marah akan tindakan sang istri yang dirasanya tak pantas. Akibatnya, tak menutup kemungkinan akan terjadi perceraian. Kalau sudah seperti ini, anak-anaklah yang akan menjadi korban kedua orangtuanya.
Kebahagiaan seorang suami akan juga menjadi kebahagiaan istri. Ketika istri menjadi seorang sosok istri sholehah dan bertakwa kepada Allah Swt, suami akan bersyukur dan bebannya sebagai imam rumah tangga akan menjadi ringan.
Istri sholehah, atau wanita solehah telah dijamin oleh Allah Swt bisa masuk surga dari pintu mana pun. Betapa bahagianya menjadi seorang wanita, apalagi jika ia menjadi seorang istri sholehah. Ketika suami telah ridho dengannya, maka tak ada alasan bagi Allah Swt memberinya segudang pahala berlimbah.
Istri sholehah akan menjadi seorang ibu yang bisa menempatkan diri secara proposional pada keluarganya. Dia akan menjadi madrasah paling pertama bagi anak-anaknya, sebab anak-anak mendapat pelajaran pertama kali dari ibunya. Jadi, ketika orangtua berharap anak-anaknya tumbuh menjadi anak sholeh, harus terlebih dahulu orangtuanya menjadi orangtua yang sholeh sehingga anak akan menjadikan kedua orangtua sebagai panutan.
Tugas seorang istri sholehah sebanding dengan ganjaran pahala yang akan didapatkannya. Mendidik, merawat, menjaga anak dan suami. Menjadi partner yang baik bagi suami, menjadi penenang saat suami sedang mengalami kegundahan, dan belum lagi mengerjakan segudang pekerjaan rumah tangga yang rasanya tak akan pernah ada habisnya.
Menjadi seorang sholehah gampang-gampang susah. Namun, jika istri mengerti batasan dan porsinya dalam rumah tangga, maka menjadi seorang istri sholehah akan terasa mudah. Apalagi jika seorang istri tersebut paham dan mengerti tentang agama dan aturan yang telah diterapkan oleh Allah Swt.
Hal yang paling mendasar agar menjadi seorang istri yang solehah adalah menghargai suami. Sudah bukan cerita baru lagi, di zaman sekarang tak sedikit istri yang tak lagi menghargai suaminya. Apalagi jika ditunjang dengan keadaan karir dan finansial istri lebih tinggi dibanding sang suami. Saat kondisi seperti ini, banyak para istri yang hanya menjadikan suami sebagai status pelengkap saja.
Menghargai suami hukumnya wajib bagi seorang istri. Seorang istri tidak boleh merendahkan apalagi menghina keadaan suami. Seorang istri harus sadar betul akan keberadaannya dan posisinya dalam menciptakan sebuah keluarga yang sakinah mawadah dan warahmah.
Pernikahan adalah ibadah dan merupakan perjalanan separuh dari agama. Saat wanita memutuskan menikah dengan seseorang, dia harus benar-benar menerima keadaan sang suami. Seorang istri harus bisa menerima baik kekurangan maupun kelebihan suami. Jangan sesekali memandang suami dari segi materi dan fisik belaka. Seorang istri wajib menghormati dan menghargai suami karena sosok suami merupakan imam rumah tangga.
Tips Menjadi Istri Sholehah
ISTRI sholehah memang dambaan setiap suami. Agar para wanita muslim bisa menjadi istri sholehah, beberapa tips berikut bisa diterapkan dalam berrumah-tangga.
1. Hati-hati melarang atau membatasi hobi suami
Biasanya, suami paling tidak senang ketika seorang istri melarang atau bahkan membatasi hobi dan kegemarannya. Apalagi, jika hobi tersebut bagi suami adalah hal yang sangat menyenangkan hatinya. Seorang istri sholehah tak akan melarang atau membatasi hobi suami. Tetapi jika hobi suami dianggap sudah berlebihan hingga lupa waktu, istri bisa mengingatkannya dengan bahasa yang santun dan tidak marah-marah.
2. Hentikan kebiasaan banyak aturan pada suami
Seorang istri jangan bersikap terlalu mengatur suami, misalnya membuat statement seperti, “pokoknya, sepulang kerja tidak boleh keluyuran. Harus langsung pulang ke rumah!” Jika sang istri membuat aturan tegas seperti itu, sang suami akan merasa tertekan dan bisa jadi marah-marah. Lebih baik ingatkan suami dengan cara yang santun dan halus. Katakan saja pada suami kalau anak-anak selalu menunggu kepulangannya untuk makan malam bersama. Terpenting, gunakan cara-cara yang manis untuk mengingatkan suami.
3. Hati-hati meminta suami untuk mengubah penampilan
Suami pasti akan merasa jengah dan kesal jika sang istri selalu memintanya berubah. Misalnya, ketika sebelum menikah dengan Anda, sosok suami adalah orang yang berpenampilan cuek. Ketika sesudah menikah, Anda ingin sekali mengubahnya menjadi lebih rapi. Jika Anda ingin melihatnya berpenampilan berbeda dari biasanya, sebaiknya Anda memberi masukan saat suasana hatinya sedang baik.
4. Jangan terlalu cemburu dan curiga
Banyak yang bilang kalau cemburu adalah tanda cinta. Namun, suami pada umumnya tidak senang dicemburui dan dicurigai. Apalagi jika Anda cemburu dan curiga berlebihan. Seorang istri yang sholehah tidak akan melakukan hal seperti itu. Jika Anda merasa suami sedang berubah, jangan dulu mencurigainya dia mulai melirik wanita lain. Ada baiknya Anda menyelidikinya terlebih dahulu. Mungkin saja suami kurang perhatian karena sedang mengerjakan sesuatu pekerjaan yang memang menyita perhatiannya.
5. Jangan mengeluarkan emosi meluap-luap
Ketika terjadi perbedaan pendapat atau perselisihan, biasanya tak jarang istri akan meledak emosinya. Meskipun dalam keadaan marah dan merasa kesal pada perbuatan suami, sebaiknya seorang istri tidak boleh memarahi atau membentak suami. Emosi boleh-boleh saja jika yang dilakukan oleh suami memang melanggar sesuatu yang salah. Namun, harus selalu diingat agar tidak meledak-ledak. Lebih baik menegur suami ketika kondisi santai saat Anda berduaan. Ungkapkan rasa kecewa dan kekesalan yang anda rasakan pada suami dengan bahasa yang santun.
6. Selalu menghargai suami
Menghargai dan menghormati suami dalam kondisi apapun. Jangan pernah menganggap rendah suami walaupun suami dalam keadaan yang sulit. So, menjadi seorang istri sholehah gampang, bukan? Jangan sekali-sekali memandang suami dari sekadar fisik atau merendahkan diri suami. Raihlah ridho suami dalam membina pernikahan, karena Allah Swt akan memberikan surga bagi wanita dan istri sholehah. //**

Kasih Ibu Sepanjang Masa

Jika perjalanan bumi mengelilingi matahari terukur sejak fajar hingga saat terbenam, maka perjalanan kasih ibu berjalan sepanjang masa. Sejak dalam kandungan hingga tumbuh menjadi manusia mandiri, ibu memegang peranan penting perjalanan anak manusia. Kasih ibu tak berujung, karena seorang ibu tak ubahnya sebuah sekolah bagi anak-anaknya. Ibu Rumah Tangga Bukan Pembantu Rumah Tangga


Suatu hari seeseorang datang menghadap Rasulullah SAW dan bertanya, “Siapakah manusia yang paling berhak untuk aku pergauli dengan baik?” Rasulullah SAW menjawab, “Ibumu.” Dia bertanya lagi, “Kemudian siapa?” Rasulullah SAW menjawab, “Kemudian ibumu.” Dia bertanya lagi, “Kemudian siapa?” Rasulullah SAW menjawab, “Kemudian ibumu.” Dia bertanya lagi, “Kemudian siapa?” Rasulullah SAW menjawab lagi, “Kemudian ayahmu.” (Shahih Muslim No.4621).

MENURUT penjelasan seorang teman, penyebutan “ibu” sampai tiga kali dan “ayah” hanya sekali, itu artinya dalam satu rumah harus ada “tiga ibu” dan “satu ayah”.… Hadeh! Ini tentu saja hanya guyonan. Yang benar adalah, bahwa pengulangan kata “ibu” sampai tiga kali menunjukkan bahwa seorang ibu lebih berhak atas anaknya dengan bagian yang lebih lengkap dibanding ayahnya. Bahwa ibu memiliki tiga kali hak lebih banyak daripada ayahnya, bisa dipahami dari kerepotan sang ibu ketika dia hamil, melahirkan, dan menyusui. Tiga hal ini hanya bisa dikerjakan oleh sang ibu, dengan berbagai penderitaannya.
motherSeorang ibu bisa membuat anaknya nyaman berada di sisinya dan ketika anak dewasa dia akan lebih mampu menyelesaikan masalah yang ada dengan baik. Dia akan lebih mampu mengatasi masalah yang ada dan hidupnya lebih seimbang. Jadi, baik tidaknya seorang anak sangat dipengaruhi oleh ibu yang mengasuh dan mendidiknya.
Peran ibu sebagai pengelola rumah tangga memang sangat kompleks. Tidak sedikit wanita yang merasa bahwa ia menjadi ibu rumah tangga seolah menjadi pembantu rumah tangga. Pekerjaannya menumpuk dan ia harus melakukannya sendirian, karena banyak kaum bapak yang mengira bahwa itu adalah pekerjaan istrinya. Terlalu tega sebenarnya laki-laki yang membiarkan istrinya melakukan semua pekerjaan rumah tangga dan ia sendiri masih ingin dilayani. Istrinya pasti akan sangat lelah dan tidak mempunyai waktu untuk dirinya sendiri.
Mengurai perjalanan pengabdian kaum ibu tak akan terukur. Pasalnya, kelewat panjang dan tidak memiliki ujung akhir. Pengabdiannya selaku manusia bisa jadi paling berat dibanding kaum bapak. “Bagi seorang ibu, mengabdi pada keluarga, atau anak dan suami adalah ibadah,” ujar Dra Hj Cri Puspa Dewi Motik Pramono, MSi atau akrab dipanggil Dewi Motik dalam suatu kesempatan.
Bahkan Nabi Muhammad SAW pun mengungkapkan dengan penegasan kepada kaumnya dengan menyebut ibu ‘tiga’ kali, selanjutnya baru bapak dan seterusnya. Artinya, ini sebuah gambaran, ibu merupakan kaum yang harus diutamakan.
“Menjadi seorang ibu itu sangat berat, tapi bila dijalani dengan ikhlas, tulus dan penuh kesadaran bahwa menjadi ibu sangat mulia, maka yang muncul rasa kebahagiaan,” kata Dewi Motik. Terlebih, lanjutnya, bila anak-anak sudah mampu mandiri dan bertanggung jawab pada perjalanan masa depan selanjutnya, serta suasana keluarga terjaga dalam keadaan harmonis, serasi penuh kedamaian, tentu sangat membahagiakan, niscaya itu merupakan anugerah dari Allah SWT.
Lebih lanjut dicontohkan mengenai betapa hebatnya kaum ibu, khususnya di Indonesia. “Di kala negeri ini mengalami krisis ekonomi, banyak kaum ibu harus berjuang keras banting tulang membantu mencari nafkah untuk keluarga. Tak sedikit ibu-ibu berjuang sendirian bekerja mencari nafkah karena suami mereka mengalami goncangan akibat pemutusan hubungan kerja (PHK), sementara mencari pekerjaan baru sangat sulit. Sungguh luar biasa,” ungkapnya.
Perihal beratnya tugas seorang ibu di Indonesia, juga diungkapkan dr Lucky Safitri Wydya Kusuma, SpOG, dokter spesialis kebidanan dan kandungan RSUP Persahabatan dan RS Husni Thamrin Jakarta. Menurutnya, seorang ibu di Indonesia tidak saja mengurusi rumah tangga, tapi bekerja di luar rumah. Sementara di sisi lain harus memikirkan gizi anak-anak, terlebih jika sedang mengandung.
“Tapi, yang terjadi di Indonesia, banyak ibu yang tengah hamil tetap bekerja di luar rumah,” katanya. Mengapa demikian? Karena pada umumnya kondisi masyarakat masih hidup dalam status ekonomi menengah ke bawah. Lain hal dengan negara-negara maju. Seperti Jepang, Amerika, negara-negara Eropa, dan lain sebagainya, banyak kaum ibu lebih memilih tinggal di rumah merawat anak-anak dan rela melepaskan pekerjaan maupun kariernya.
Pilihan menjadi perempuan karier atau ‘bekerja’ menjadikan tugas keseharian sebagai seorang ibu bertambah berat. Pasalnya, menilai pekerjaan mengurus keluarga saja sudah cukup berat, apalagi harus membantu mencari nafkah di saat kondisi perekonomian sangat sulit. Sementara di bagian lain, di era sekarang ini banyak ‘polusi’ yang dapat meracuni keluarga dan anak-anak.
“Maraknya narkoba, pergaulan bebas, mudahnya mengakses informasi, seperti lewat internet yang notabene banyak yang tidak bertanggung jawab, juga film-film dan VCD porno dan sebagainya, hal ini semakin menjadikan tugas berat seorang ibu dalam hal pengawasan serta pendidikan anak dan keluarga,” tukas dr Lucky.
Begitu banyak dan kompleksnya permasalahan yang dihadapi kaum ibu Indonesia sepertinya perlu pemikiran serta sumbangsih pemikiran, minimal bagaimana upaya membagi waktu yang padat tersebut bagi pencurahan perhatian kepada anak dan keluarga.
Baik Dewi Motik maupun Lucky Safitry sependapat jika sesedikit apapun waktu luang, seorang ibu tetaplah mesti ‘menemui’ anak-anak.
Karena, menurut kedua perempuan karier tersebut, anak-anak dan keluarga merupakan bagian nomor satu yang harus diperhatikan. Untuk diperlukan sebuah kesadaran dan pemahaman bahwa tugas dan seberat apapun tugas seorang ibu tak ubahnya merupakan ibadah. Itu sebabnya, harus dijalankan dengan baik, ikhlas, tulus dan penuh kesadaran, karena tugas tersebut merupakan suatu ibadah.
Dalam menjalankan tugas sekaligus ibadah dan ‘multi job’ tersebut, seorang ibu hendaknya tetap mengutamakan keluarga, terutama dalam hal pemberian bekal pendidikan kepada anak-anaknya. Misalnya, pendidikan etika dan agama. Sebab, pendidikan etika dan agama merupakan fundamen sekaligus bekal bagi anak-anak untuk perjalanan hidup selanjutnya.
Sebagai ibu yang baik, mereka harus bisa menjadi suri tauladan untuk anak-anaknya. Ibu yang baik harus bisa memberikan perhatian terbaik pada anaknya karena perhatian dari seorang ibu mampu mencetak generasi bangsa yang unggul dan dapat diandalkan di kemudian hari. Ibu adalah kunci kesuksesan hidup seorang anak, baik untuk agama dan akhlaknya.
Oleh karena itu, sudah menjadi kewajiban seorang anak untuk berbakti kepada sang ibu yang memang mempunyai hak untuk dihormati sampai tiga tingkatan. Dan tidak berlebihan kiranya jika dikatakan bahwa surga berada di bawah telapak kaki ibu. //**

Akhlaqul Karimah



Image
WA INNAKA LA ‘ALAA KHULUQIN ‘ADZIIM - Dan sesungguhnya engkau Muhammad niscaya memiliki akhlaq yang agung.” Demikian firman Allah SWT didalam Al-Quran Surat Al-Qolam (58:4).

Sebelum diangkat menjadi Rasul, Muhammad adalah manusia yang jujur dan tidak memiliki cela, sehingga dijuluki al-Amin atau orang yang dapat dipercaya.
Demikian dihormatinya Muhammad, sehingga 5 tahun sebelum kenabian ketika terjadi banjir besar di Makkah dan batu Hajar Aswad hanyut dan diperbaiki, para tetua 4 suku di Makkah bertengkar tentang siapa yang berhak untuk mengembalikan batu hitam dari sorga itu ke tempatnya. Karena deadlock – buntu, maka para sesepuh itu akhirnya sepakat menyerahkan pengembalian batu itu ke Muhammad Al-Amin. Padahal ketika itu Muhammad baru berumur 35 tahun.

Sekiranya orang biasa diserahi kehormatan demikian, barangkali dengan rasa pongah dan membusungkan dada dikembalikannya batu itu sendirian. Tetapi tidak demikian dengan Muhammad. Dilepasnya sorbannya, dibentangkannya, diletakkannya Hajar Aswad itu diatas sorbannya, lalu dipersilahkannya para boss suku-suku itu menggotongnya rame-rame ke tempat asalnya di sudut Kabah, sampai akhirnya Muhammad meletakkannya di tempatnya.
Demikianlah contoh betapa mulianya akhlaq Muhammad di mata masyarakat, padahal saat itu beliau belum diangkat menjadi Nabi.

Pasca Kenabian.
Alangkah mulianya ahlak Rosulullah dapat dilihat dari hadits tentang sohabat Anas yang selama menjadi khodam – pelayan Rosululloh tidak pernah sekalipun ditegur Nabi dengan ucapan ‘uffin’ – “Ah!”.
Ketika Anas berbuat sesuatu yang Nabi sebetulnya tidak menghendakinya, tidak pernah sekalipun Nabi menegor “lima shona’tahu?” – mengapa engkau mengerjakan itu?
Ketika Anas tidak berbuat sesuatu padahal Nabi sebetulnya menghendakinya, tidak pernah sekalipun Nabi mengatakan “lima taroktahu?” – mengapa engkau tidak mengerjakan itu?

Boleh jadi ada orang berargumen, ah, itu kan karena Anas memang sohabat yang perfeksionis, orang yang serba sempurna, sehingga selama menjadi khodam tidak pernah berbuat kesalahan.
Sohabat Anas adalah manusia biasa. Siapakah manusia biasa yang bisa melayani tanpa salah, atau bisa dengan tepat menebak keinginan yang dilayaninya selama 10 tahun? Ya, menurut hadits itu, Anas menjadi khodam Nabi selama 10 tahun.
Bagaimana sesama anak Adam memperlakukan sesamanya, Nabi berwasiat kepada para khalifah supaya yu’addzim kabiiirohum– memuliakan orang tua, wa yarhama shoghiirohum dan menyayangi anak kecil. Nah, kalau kepada yang tua dan yang muda saja harus demikian, bagaimana kepada para peers alias yang sebaya?

Al ‘Ulya - As Sufla

Hubungan sesama manusia tidak mungkin terlepas dari al-‘ulya alias ‘yang di atas’ dan as-sufla alias ‘yang di bawah’. Contohnya pemimpin-bawahan, suami-isteri, ortu-anak, kakak-adik, dst.
Bagaimana Islam mengajarkan al-‘ulya harus bersikap kepada as-sufla?

Wahfidz janaahaka limanittaba’aka minal muminiina – Rendahkan sayapmu kepada orang iman yang mengikutimu. Fabimaa rohmatin minalloohi linta lahum – maka dengan rahmat dari Allah lemah lembut engkau Muhammad kepada mereka. Walau kunta faddhon gholiidhol qolbi lanfaddhuu min haulika – jika engkau keras dan kasar hati niscaya bubar mereka darimu Muhammad. Demikianlah beberapa dari perintah Allah yang ada didalam Al-Quran.
Hadits dari Anas diatas sudah lebih dari cukup untuk menunjukkan bagaimana luhurnya ahlak Muhammad sebagai al ‘ulya kepada seorang Anas sebagai as-sufla.
Umar bin Khottob terkenal galak diluar rumah, tetapi lemah lembut kepada isterinya. Ketika ditanya mengapa demikian, dijawabnya karena isterinya itulah yang melahirkan dan membersarkan anak-anaknya.

Ada lelaki sekarang yang nampak gentleman di luar, tetapi justru galak didalam rumah. Keras kepada isterinya, dan streng kepada anak-anaknya. Mereka stress manakala berjumpa dengan bapak biologisnya sendiri. Ini bukan rekaan. Buktinya ada UU KDRT - Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Tempelengan, bahkan lebih dari itu di kalangan keluarga, masih terjadi. Na’uudzu billaahi min dzaalika.
Sabda Nabi di sebuah hadits: “Alangkah hinanya seorang laki-laki yang berbuat kasar kepada isterinya, siang dipukuli, malam dikumpuli”. Kalau dalam istilah Kang Kabayan: ’beurang digebugan, peuting ditumpakan’.

Waspada Mulut
Nabi ditanya ‘an aktsari maa yudkhilun naasal jannata – tentang apa yang paling banyak menyebabkan orang masuk sorga. Apakah karena jagoan yang siap maju ke medan perang? Apakah karena banyak ilmu yang siap untuk diajarkan? Karena banyaknya harta yang siap untuk disedekahkan?
Ternyata jawab Nabi adalah: ’taqwalloohi wa husnul khuluqi’ – taqwa kepada Allah dan ahlak yang baik.
Lalu Nabi ditanya ‘an aktsari maa yudkhilun naasan naaro – tentang apa yang paling banyak menyebabkan orang masuk neraka?
Ternyata jawab Nabi mengejutkan: ’al famu wal farju’ - mulut dan farji.

Shodaqo Rosululloh, sungguh benar Nabi. Dengan mulut bisa bertengkar, berdebat, berbohong, naminah (adu-domba), ghibah (ngerasani, ngupat, menjelek-jelekkan) dan fitnah, serta memuji orang. Didalam Islam, memuji orang didepannya adalah larangan, karena bisa membunuh niat Karena Allah orang yang dipuji. Menimbulkan rasa riya. Qod qoto’ta ‘unuqo shoohibika – sungguh engkau telah memenggal leher saudaramu, demikian sabda Nabi kepada orang yang memuji orang lain didepannya.
Melaksanakan akhlaqul karimah itu ibarat meniti tangga. Yang menjunjung tinggi akhlaqul karimah ibaratnya menaiki tangga, semakin lama semakin tinggi, sampai ke summit atau puncak pencakar langit. Sebaliknya mereka yang mengabaikan akhlaqul karimah, ibaratnya menuruni tangga, semakin lama semakin rendah. Sampai ke basement.
Sangat banyak aspek tentang akhlaqul karimah. Oleh karena itu mengkhatamkan hadits Kitabul Adab atau ‘Buku tentang Tingkah-Laku’ baik di himpunan maupun di kitab hadits besar, seharusnya menjadi prioritas utama. Alhamdulillah, ternyata ucapan dan tingkah-laku dari mulai bangun tidur sampai tidur lagi, ada adabnya.
Maka alangkah meruginya setelah jungkir balik siang-malam fastabiqul khoirot amal solih di segala bidang kegiatan agama termasuk organisasi, semua menjadi kontra-produktif  mubadzir gara-gara mengabaikan akhlaqul karimah. Bil khusus sesuai hadits diatas gara-gara mengabaikan untuk menjaga bagian yang paling banyak membawa manusia ke neraka: mulut.

Semua sudah pada tahu dalil fal yaqul khoiron au liyasmuth – lebih baik diam daripada mengumbar bicara. Jadi daripada tidak tahan untuk tidak berbicara tidak baik, atau tidak mampu “nasehat pait-madu”, demi mewujudkan akhlaqul karimah, mengapa tidak mencontoh sikap Nabi kepada Anas? Fa aina tadzhabuun?
   
Quote this article in website
Favoured
Print
Send to friend
Related articles
Save this to del.icio.us
 
Copyright © Jelajah Hikmah Islam - Ngaji by Media Komunikasi & Pengajian LDII di Youtube - Sponsored by Official Website of LDII