Tentu saja terlupakan, bahkan terasa ‘asing’ bagi kebanyakan telinga orang. Sebab bukankah yang berlaku dimana-mana justru Pelayan Ummat Dilayani Ummat alias PUDU?
Bagi kebanyakan, pemimpin identik dengan kekuasaan (tahta) identik dengan kekayaan (harta) dan identik dengan kesenangan (wanita).
Zuhud
Padahal dalam sejarah Islam, pemimpin jauh dari menumpuk-numpuk harta. Justru sebaliknya. Ketika Abubakar RA diangkat menjadi Khalifah, 100% hartanya diserahkan ke Sabilillah. Ketika Umar RA diangkat menjadi Khalifah, 50% hartanya diserahkan ke Sabilillah. Ketika Utsman RA diangkat menjadi khalifah, entah berapa ribu unta lengkap dengan peralatan perangnya yang sudah diserahkan ke Sabilillah.
Bagaimana dengan Muhammad?
Beliau adalah pengusaha muda kaya yang beristerikan isteri yang kaya raya pula. Tetapi setelah menjadi Nabi, beliau sering ’unplanned fasting’ alias puasa sunnah yang sama sekali tidak direncanakan sebelumnya. Beliau puasa sunnah karena tidak mendapatkan makanan untuk sarapan pagi. Masya Allah …
Pada saat Raja Parsi, Raja Romawi bahkan Raja Habsyi pengikut Injil yang mengakui kenabian Muhammad semuanya tidur di atas kasur empuk di dalam kamar yang bisa jadi dikipasi dayang-dayang cantik jelita, Rosulullah tidur di lantai beralaskan tikar keras dan kasar yang meninggalkan bekas di kulit tangannya, yang menyebabkan hati Abu Bakar RA miris dan menangis karenanya.
Begitulah sifat zuhud alias kesederhanaan luar biasa yang ditunjukkan orang-orang shalih zaman dulu, sebelum dan sesudah mereka diangkat menjadi pemimpin.
Pemimpin adalah pengabdian. Ketika Umar RA dalam penyamarannya di malam hari mendapatkan sebuah rumah yang penghuninya kelaparan, beliau memanggul sendiri makanan dan mengirimkannya ke rumah keluarga itu.
Mereka justru menjadi miskin setelah menjadi pemimpin? ‘Ya’ dalam penampakan dunia. Tetapi ‘tidak’ dalam pandangan agama.
Sebab justru para pemimpin seperti itulah yang akan kaya-raya di akhirat nanti. Atas dasar keyakinan bahwa ‘harta yang dimiliki’ yang akan dijumpai lagi di akhirat, adalah harta yang sudah diserahkan ke Sabilillah. Adapun selainnya, bukan miliknya, melainkan milik ahli warisnya.
Faqih
Siapa memerlukan siapa? Apakah pemimpin yang memerlukan ummat, atau justru sebaliknya ummat yang memerlukan pemimpin?
Sabda Nabi, barangsiapa kaum yang mengangkat pemimpinnya ‘ala fiqhin atau atas dasar kefaqihan, maka akan hidup pemimpin, dan hidup pula kaum: hayatan lahu walahum.
Sebaliknya, barangsiapa kaum yang mengangkat pemimpinnya ‘ala ghoiri fiqhin atau bukan atas kefaqihan, maka akan rusak pemimpin, dan rusak pula kaum: halaka lahu walahum.
Jadi jelas atas dasar hadits itu, bahwa kaumlah yang memerlukan pemimpin. Bukan sebaliknya.
Sebab kaum tanpa pemimpin jelas hidupnya akan kacau balau. Sebaliknya pemimpin yang tanpa kaum ya bukanlah pemimpin. Karena tanpa kaum artinya tidak ada orang lain. Artinya dia soliter, hidup sendiri.
Istilah ‘pelayan ummat’ sebetulnya bukan barang baru di alam demokrasi. Di Amerika Serikat, Pemerintahan President Obama, misalnya, disebut ‘President Obama Administration’. Jadi ‘pemerintah’ itu tidak lebih dari ‘administratur’.
Disana, Pegawai Negeri Sipil (PNS) disebut ‘Civil Servant’ alias ‘pelayan sipil’. Di sana pula, rakyat bisa memaki-maki para pejabat dan pegawai pemerintahan dengan mengatakan “I am tax payer” – aku pembayar pajak yang dipakai untuk menggaji kalian! Maka jangan berbuat macam-macam kepada kami yang menggaji kalian. Begitu kira-kira bahasanya jika tanpa tedeng aling-aling.
Apakah ukuran kefaqihan atau kefahaman? Apakah menguasai ilmu-ilmu ipoleksosbudmil (ideologi-politik-ekonomi-sosial-budaya-militer)? Ternyata bukan.
Yang dimaksud pemimpin faqih yang akan berujung kepada ‘hidup pemimpin, hidup kaum’ sebagaimana dimaksudkan didalam hadits Nabi diatas, adalah pemimpin yang mengetahui ilmu agama. Ilmu Al-Quran dan Al-Hadits. Tetapi berbekal ilmu agama itu saja tidak cukup.
FAST
Pemimpin faqih adalah yang menguasai ilmu Al-Quran dan Al-Hadits, serta dapat melaksanakan 4 sifat pemimpin shalih berikut:
- S-idik alias jujur atau dalam terminologi manajemen modern disebut ‘integritas’. Berkata apa adanya. Tidak mengada-ada. Baik dikatakan baik, buruk dikatakan buruk. Berpegang teguh dengan value system alias nilai-nilai.
- A-manah alias dapat dipercaya alias tidak khianat atau terminologi manajemen modern disebut ‘transparan’. Tidak mengkhianati ummat yang telah memilihnya. Tidak mangkir dari tugas. Tidak KKN (korupsi-kolusi-nepotisme).
- T-abligh alias menyampaikan kebenaran atau dalam konteks terminologi manajemen modern disebut ‘komunikatif’. Berbicara langsung dan mendengarkan suara grassroot, alias lapisan ummat paling bawah. Tanpa perantara.
- F-athonah alias cerdas atau dalam terminologi manajemen modern disebut ‘work-smart’. Segala jenis pluralisme dan heterogenitas dihadapi dengan sikap wasathon umama alias ummat yang tengah yang dapat diterima semua pihak.
Ketika sudah bicara FAST, maka Good Governance (GG) atau Good Corporate Governance (GCG) alias ‘tata-kelola’ atau ‘tata-kelola-usaha’ sudah menjadi tidak relevan lagi. Karena FAST adalah sifat-sifat para Nabi dan Rasul. Mana lagi sifat yang lebih sempurna dari itu?
Pemimpin Durhaka
Percakapan antara ummat dengan pemimpin berikut akan terjadi di akhirat nanti:
”Innaa kunnaa lakum taba’an – sungguh, dulu kami mengikutimu”, kata ummat.
“Fa hal antum mughnuuna ‘annaa min ‘adzaabillaahi min syaii – apakah engkau wahai pemimpin bisa mencegah sedikit saja adzab yang ditimpakan Allah kepada kami?, kata ummat lagi.
Bagaimana jawaban pemimpin?
“Lau hadaanalloohu lahadainaakum – seandainya dulu Allah memberi petunjuk kepadaku, niscaya akupun akan memberi kalian petunjuk”, kata pemimpin.
“Sawaaun ‘alaina ajazi’naa am shobarnaa maa lanaa min mahiish – sama saja bagi kita apakah menolak atau shabar menerima, semua tidak ada gunanya”, kata pemimpin lagi.
Astaghfirullaaaaaah, rupanya percakapan ummat pengikut dan pemimpinnya itu adalah percakapan di neraka. Ya, ummat dengan pemimpinnya bersama-sama berada di neraka.
Maka hati-hatilah, jangan sampai salah mengangkat atau memilih pemimpin. Pemimpin yang menjerumuskan. Pemimpin durhaka.
Boro-boro menolong ummatnya, menolong diri sendiri saja seorang pemimpin durhaka itu tidak bisa. Maka sekali lagi: hati-hatilah.
PUPU vs PUDU.
Sungguh mengerikan ‘lingkaran syetan’ atau lebih tepat disebut ‘lingkaran iblis’ akibat calon pemimpin membagi-bagikan uang atau dalam bentuk natura seperti sembako, sound system, karpet, dlsb. Tujuannya untuk apa lagi kalau bukan supaya ummat memilihnya sebagai pemimpin.
Disebut ‘lingkaran iblis’ karena tiga hal:
- Untuk calon pemimpin, jika menang, akan menjadi pemimpin dengan biaya ‘modal’ yang sangat besar yang tidak mungkin ‘kembali modal’ kecuali harus melakukan mega-korupsi;
- Untuk calon pemimpin, jika kalah, akan menjadi pecundang yang ketahuan ketidak-tulusannya ketika memberi; karena tidak sedikit yang kemudian tega-teganya menarik kembali pemberiannya;
- Untuk ummat, memilih pemimpin karena imbalan dalam bentuk uang atau bentuk natura lainnya adalah pelanggaran terhadap dalil memilih pemimpin atas dasar kefaqihan; dan itu adalah rasuah, suap.
Yang terpilih bukanlah PUPU pemimpin yang faqih, melainkan PUDU pemimpin yang durhaka.
Akhirnya? Sebagaimana di percakapan yang ada didalam Al-Quran di atas, semuanya blung: masuk kedalam neraka. Na’uudzubillaahi min dzaalika.
0 komentar:
Post a Comment